• Profil dan Sejarah Kota Cimahi

    Pada tanggal 21 Juni 2001 Cimahi ditetapkan sebagai kota otonom..

  • Tahapan Pilkada Kota Cimahi 2017

    Peraturan KPU No 3. tahun 2016 tentang pemilihan kepala daerah..

  • Kabar Berita Seputar Kota Cimahi

    Kabar dan Berita Seputar Kota Cimahi dan wilayah disekitarnya..

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, December 29, 2019

Masjid Baiturrokhmah Cimahi yang Bersejarah

Cimahi Smart CityMasjid Baiturrokhmah di Cimahi jadi saksi bisu perjuangan para ulama melawan penjajah. Dibangun pada 1938, masjid ini masih berdiri kokoh sampai sekarang. Meski sempat dibombardir tentara Belanda, Masjid Baiturrokhmah masih tetap berdiri gagah. Deretan bom mortir sekutu gagal meledak saat menyentuh tanah masjid. Berbagai upaya Belanda untuk menyergap para ulama pejuang pun nihil dari jalur darat. Di sini, para ulama pejuang yang tergabung dalam Laskar Hizbullah merangkai strategi pertempuran, sekaligus menyebarkan dakwah Tarikat Tijaniyah yang dipimpin ulama karismatik, KH Usman Dhomiri.

Cerita itu disampaikan H R Effendi, cucu pertama dari KH Usman Dhomiri. Menurutnya saat itu Cimahi masih diduduki Belanda. "Dulu di sekeliling masjid dipasangi benteng kayu yang tebal, jadi zaman Hizbullah itu sekutu menembaki ke area masjid, tapi enggak ada yang kena," ujar Effendi, cucu dari KH Usman Dhomiri, belum lama ini. "Jadi yang dulu dicari Belanda itu para ulama karena dianggap bisa menyatukan umat, mungkin karena karomah ulama zaman dulu, mereka bisa luput dari kejaran Belanda," kata Effendi. Sosok KH Usman Dhomiri berperan besar dalam pembangunan masjid ini. Lahir di Maroko tahun 1870, beliau kemudian mengajarkan Tarekat Tijaniyah dan ilmu bela diri kepada para pengikutnya.

"Dari dulu memang tidak buka pesantren di sini, karena dulu ini adalah medan juang. Tapi eyang menerima murid yang mau belajar Tarekat Tijaniyah, sekarang mantan muridnya membuka pesantren di berbagai daerah," kata Effendi. KH Usman Dhomiri tutup usia pada tahun 1955, jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Baiturrokhmah. Di sekeliling pusaranya, terdapat makam istri, anak dan sanak saudara beliau. "Kalau tiap tanggal 22 Maulid ada gelaran haul untuk beliau. Yang datang bisa ribuan orang dari berbagai daerah," ujar Effendi. Saat ini, kondisi bangunan masjid masih sama seperti saat pertama kali dibangun. Tetap satu lantai dengan enam kubah, interior di dalam masjid pun masih bergaya art deco dengan empat pilar yang menopang fondasi masjid.

Karena bentuk asli masjid masih terjaga, bangunan heritage ini lolos verifikasi cagar budaya dari Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) RI. Pemerintah Kota Cimahi pun mengabadikan sosok KH Usman Dhomiri menjadi nama jalan. "Walau demikian, kami dari DKM masjid melakukan empat kali renovasi di bagian luar masjid karena terus bertambahnya jemaah, kalau di dalam masjid hanya bisa menampung 120-an jemaah," kata Iyus Rusdian, Ketua DKM Baiturrokhmah. Masjid ini terletak di Jalan KH Usman Dhomiri, Padasuka, Cimahi Tengah, Kota Cimahi. Lokasinya berada di tengah-tengah kawasan padat penduduk. Traveler bisa mengunjunginya bila kebetulan sedang liburan di Cimahi.

RS Dustira - Rumah Sakit Tertua di Indonesia

RS Dustira - Rumah Sakit Tertua di Indonesia ada di Cimahi Smart CityRumah Sakit (RS) Dustira yang terletak di Kota Cimahi merupakan salah satu rumah sakit tertua di Indonesia. Sebelum dikelola oleh TNI pada 1950, rumah sakit ini diberi nama Militaire Hospital oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dibangun pada abad ke-18, Militaire Hospital merupakan tempat perawatan tentara Belanda yang terluka di medan perang. Rumah sakit ini menjadi salah satu sarana penunjang komando militer atau Garnisun Belanda di Kota Cimahi.

Pascakekalahan Belanda dari Inggris di Batavia pada tahun 1811, beberapa puluh tahun kemudian Cimahi dipilih sebagai komando militer karena lokasinya berada di simpang jalur kereta api dan Jalan Raya Pos, sehingga lebih memudahkan mobilisasi pasukan. Untuk menunjang hal itu Belanda membangun rumah sakit dan het Militaire Huis van Arrest (rumah tahanan militer yang kini menjadi Penjara Poncol) di Kota Cimahi. Baru pada tahun 1949, ketika ada pengakuan kemerdekaan oleh Kerajaan Belanda. Rumah sakit ini diserahterimakan kepada TNI yang diwakili oleh Letkol dr. Raden Kornel Singawinata (Letkol Singawinata).

Rumah sakit pun berganti nama dari Militaire Hospital menjadi Rumah Sakit Territorium III dengan Letkol Singawinata menjadi kepala rumah sakitnya. Tujuh tahun kemudian, Panglima Territorium III, Kolonel Kawilarang memberi nama Rumah Sakit Dustira. Pemberian nama ini merupakan penghargaan terhadap kepada Mayor dr. Dustira Prawiraamidjaya yang berjasa dalam mengobati prajurit Territorium III di masa perjuangan melawan penjajah. Hingga saat ini, rumah sakit seluas 14 hektare tersebut masih berdiri kokoh. Meski sudah memasuki era modern, nuansa heritage-nya masih terlihat dan terasa.

Saturday, July 1, 2017

Nasib Kolam Renang Berkleus di Kota Cimahi

Nasib Kolam Renang Berkleus di Kota Cimahi Cyber CityKOLAM renang Berkleus merupakan salah satu kolam renang bersejarah yang dimiliki Kota Cimahi. Kolam yang berlokasi di Jalan Sukimun, RT 1, RW 4, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah itu kini kondisinya hancur terbengkalai meski sempat menjadi primadona wisata hingga tahun 90-an. Konon, kolam renang Berkleus merupakan bagian dari penginapan yang dimiliki warga negara Belanda bernama Berkleus. Pengelolaan area penginapan beserta kolam renangnya lantas dipindahtangankan kepada kepolisian.

Kolam renang tersebut menjadi primadona wisata sejak puluhan tahun lamanya. Bahkan sejak zaman kolonialisme. Selain kolam renang, pengelolanya turut menambahkan arena bermain anak yang dilengkapi semacam kebun binatang mini. Berbagai jenis satwa bisa seperti buaya, monyet, ular, aneka ragam burung, bahkan gajah disaksikan sesuka hati oleh pengunjung. Sayangnya, kini nasib kebun binatang itu sama dengan kolam renangnya, karena yang tersisa hanya patung dari satwa-satwa tersebut dan kandangnya. Saat memasuki Berkleus, nuansa tempo dulu seketika menghipnotis mata. Saat masuk melalui pintu bagian belakang, pandangan akan langsung tertuju pada dua kolam renang yang terhampar tidak terawat. Satu kolam berukuran besar dan satu kolam lagi berukuran lebih kecil.

Galamedianews melaporkan, kolam tersebut kotor dan berlumut meski tangganya masih terpasang di tepian kolam. Kolam renang tersebut kini dimanfaatkan oleh warga sebagai sarana memancing. Selain kolamnya yang hancur, fasilitas pendukung lainnya dibiarkan rusak dan hancur, mirip lokasi angker di acara uji nyali di televisi. Di sebelah baratnya terdapat ruangan ganti pengunjung dan kamar mandi yang atapnya sudah lapuk dan bolong. Selengkapnya : Pikiran Rakyat

Wednesday, June 1, 2016

Penelusuran Arsip 10 Tokoh Sejarah Cimahi

Penelusuran Arsip dan 10 Tokoh Sejarah Cimahi Cyber CityPemerintah Kota Cimahi, Jawa Barat, terus berupaya menelusuri arsip sejarah daerah termasuk 10 nama tokoh yang memiliki nilai sejarah di kota tersebut. Pemkot pun mengharapkan elemen masyarakat dan instansi bisa bersama-sama ikut berpartisipasi. "Upaya yang kami lakukan adalah dengan melakukan sosialisasi penelusuran arsip yang bernilai sejarah termasuk 10 tokoh yang namanya diabadikan sebagai nama jalan-jalan di Kota Cimahi," kata Asisten Administrasi Umum Pemerintah Kota Cimahi Sri Nurul Handayani di Cimahi, Selasa (31/5).

Ia menyebutkan 10 tokoh yang bernilai sejarah dan diabadikan sebagai nama jalan di Kota Cimahi yakni Jenderal Amir Machmud, Daeng Muhammad Ardiwinata, MK Wiganda Sasmita, Dra Djulaeha Karmita, Raden Embang Artawidjaya, KH Usman Domiri, HMS Mintaredja, Rd Demang Hardjakusumah, Encep Kartawiria dan OR Mahar Martanegara. Selain nama tokoh itu, kata dia, rencananya Pemerintah Kota Cimahi mengusulkan seorang pejuang Kolonel Masturi sebagai pahlawan nasional yang juga pernah menjadi Bupati Bandung era kemerdekaan. Kolonel Masturi, lanjut dia, diabadikan juga namanya sebagai nama jalan yang menghubungkan Kabupaten Bandung Barat dengan Kota Cimahi. "Kolonel Masturi diusulkan pahlawan nasional telah direncanakan sejak lama, hal ini prosesnya tidak mudah karena menyangkut pemenuhan persyaratan," katanya.

Ia menambahkan pemerintah daerah memang dituntut untuk menyelesaikan arsip sejarah daerahnya, juga seni, dan sosial untuk dikumpulkan dan disimpan secara sistematis. Menurut dia Kota Cimahi memiliki sejarah panjang yang berawal sebagai wilayah tingkat kecamatan, kemudian kawedanaan hingga ditetapkan sebagai daerah otonomi baru sejak 2001 oleh Presiden Abdurahman Wahid. Ia berharap seluruh elemen masyarakat dan instansi untuk bersama-sama menelusuri kearsipan sejarah daerah terutama Kantor Arsip Perpustakaan dan Pengelolaan Data Elektronik (KAPDE) Cimahi agar lebih semangat menelusurinya. "Kepada SKPD terkait saya minta agar lebih menjalin komunikasi dengan instansi lain termasuk kalangan TNI supaya penelusurannya mudah," katanya. Sumber : Antara