• Profil dan Sejarah Kota Cimahi

    Pada tanggal 21 Juni 2001 Cimahi ditetapkan sebagai kota otonom..

  • Tahapan Pilkada Kota Cimahi 2017

    Peraturan KPU No 3. tahun 2016 tentang pemilihan kepala daerah..

  • Kabar Berita Seputar Kota Cimahi

    Kabar dan Berita Seputar Kota Cimahi dan wilayah disekitarnya..

Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Monday, September 9, 2019

Fogging Antisipasi Wabah DBD Kota Cimahi

Fogging Wabah DBD di Kota Cimahi Cyber CityMewabahnya penyakit demam berdarah dangue (DBD) di Kota Cimahi, membuat Wali Kota Cimahi, Ajay M Priatna turun langsung melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pengasapan atau fogging di Kelurahan Karangmekar, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jumat (25/1/2019). Dalam pelaksaan tersebut, Ajay memulainya dengan melakukan pemeriksaan genangan air ke setiap lingkungan dan rumah warga setempat seperti memeriksa bak mandi untuk memastikan tidak ada jentik nyamuk. Selain itu, ia juga membasmi sendiri tempat yang diduga terdapat sarang nyamuk dengan cara pengasapan fogging menggunakan mesin fogging ke setiap rumah warga setempat. Menurutnya, hal tersebut harus dilakukan karena sudah kasus DBD mewabah di Kota Cimahi, sehingga kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya dilakukan oleh juru penilik jentik (jumantik) saja.

Warga Kampung Babakan Nanjung, Kelurahan Karangmekar, Kecamatan, Cimahi Tengah, Kota Cimahi meminta Pemkot Cimahi untuk terus melakukan pengasapan atau (fogging) ke setiap wilayah, khusunya untuk wilayah yang warganya banyak terjangkit DBD ( demam berdarah dengue). Hal tersebut, menyusul dengan bertambahnya warga Kota Cimahi yang terjangkit DBD. Saat ini jumlahnya telah mencapai 119 orang, sedangkan beberapa hari sebelumnya hanya 77 orang. Ketua RW 7, Kampung Babakan Nanjung, Slamet (69), mengatakan, hingga saat ini masih ada warganya yang dirawat di rumah sakit akibat terjangkit penyakit tersebut, sehingga pihaknya meminta pelaksanaan fogging agar warganya tidak bertambah.

Mengantisipasi berkembangnya jentik nyamuk di pemukiman penduduk, Pemerintah Kota Cimahi bersama Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIM) dan Cimahi Beta Community (CBC) menyebarkan 400 benih ikan cupang di saluran air pemukiman penduduk. Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya Pemkot Cimahi dalam memberantas jentik nyamuk di selokan maupun drainase setiap kelurahan. Terlebih, jumlah pasien terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD) saat ini telah mencapai 119 kasus. “Kami tidak pandang bulu di kota atau di mana saja. Kita semua periksa secara acak. Dan Pemkot Cimahi secara serentak di masing-masing kelurahan kita bagi benih ikan secara serentak,” ujar Ngatiyana di wilayah RW 5 Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.

Sunday, November 13, 2016

Acara Reuni Akbar Alumnus SMA Negeri 2 Cimahi

1000 Alumni Sapu Cimahi - Ribuan Alumnus SMA Negeri 2 Cimahi Bawa Sapu Padati Sejumlah Jalan Kota Cimahi Cyber CityRibuan alumnus SMA Negeri 2 Cimahi, memadati sejumlah Jalan di wilayah Kota Cimahi, Minggu (13/11/2016). Mereka berkumpul sejak pagi sambil membawa sapu, pengki, dan kantong plastik hitam. Alumni SMA 2 Cimahi itu menyebar ke sejumlah Jalan seperti Jalan Gatot Subroto, Jalan Dustira, Jalan Sriwijaya, Jalan Gandawijaya, Simpang Tagong dan Jalan Baros. Mereka berjalan beriringan sambil memungut sampah dan menyapu jalananan.

Aksi 1000 alumni sapu Cimahi itu merupakan bagian dari temu alumni SMA 2 Cimahi. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan kontribusi alumni SMAN 2 Cimahi terhadap Kota Cimahi yang dipusatkan di Lapangan Rajawali, Jalan Gatot Subroto, Kota Cimahi, Minggu (13/11/2016). Sedikitnya 2500 alumni hadir dan turun ke jalan-jalan untuk membersihkan jalan berama. Hadir pula sejumlah tamu undangan seperti Ade Sopandi, Kepala Staf Angkatan Laut, Plt Wali Kota Cimahi Sudiarto, Ketua DPRD Cimahi Ahmad Gunawan, Dandim dan Kapolres serta Kajari Cimahi.

MC kondang Deny Chandra, didaulat untuk memandu acara #1000AlumniSapuCimahi sekaligus Reuni Akbar Ikatan Alumni SMAN 2 Cimahi, Minggu (13/11). Kegiatan ini merupakan temu alumni dari angkatan pertama hingga terakhir yang dibalut kegiatan bersih-bersih di sejumlah ruas jalan Kota Cimahi. Kepastian Deny Chandra sebagai pembawa acara sapu-sapu dan reuni ini diperoleh setelah ada pertemuan antara Deny dengan panitia kegiatan.

Peserta yang ikut bersih-bersih, tercatat sekitar 2.400 alumni yang akan hadir. Belum ditambah dengan personel TNI, dinas kebersihan, para guru dan siswa SMAN 2 Cimahi hingga total sekitar 2500 orang melebihi target 1000 yang menjadi hashtag acara. Reuni yang dilakukan IKA SMAN 2 Cimahi ini merupakan reuni akbar pertama kali di Kota Cimahi yang diisi dengan kegiatan sosial, berupa bersih-bersih se Kota Cimahi. Masyarakat Kota Cimahi pun dihimbau agar pada hari H pelaksanaan bersih-bersih, yaitu 13 November, untuk turut membantu membersihkan lingkungannya masing-masing.

Friday, July 8, 2016

Cimahi Bangun Instalasi Pengolahan Air Bersih

Pemkot Cimahi Bangun Pipa Saluran Air ke Seribu Rumah Cimahi Cyber CityCimahi saat ini tengah melakukan pembangunan jaringan distribusi instalasi pengolahan air (IPA) bersih di sejumlah wilayahnya. Pemasangan dan realisasi penyaluran air bersih sudah bisa mengalir ditargetkan tahun 2016 ini.

Kabid. Air Bersih dan Limbah Domestik Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cimahi Djani Ahmad Nurjani, mengatakan, saat ini jaringan air bersih sedang di bangun di beberapa lokasi. "Menyambungkan dari instalasi utama di Pemkot Cimahi ke dua kelurahan untuk awal," katanya, di Pemkot Cimahi Jln. Rd. Demang Hardjakusumah Kota Cimahi, Rabu 10 Mei 2016.

Untuk pemasangan pipa distribusi utama, sepenuhnya didanai oleh pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PU dan PR). "Kalau pembangunan gedung kantor sudah selesai di Pemkot Cimahi. Untuk pemasangan pipa distribusi akan dianggarkan pemerintah pusat, untuk pemasangan pipa ke rumah-rumah akan menggunakan APBD Cimahi," ujarnya.

Debit air yang dialirkan diperkirakan mencapai 50 liter/detik dengan sumber dari Sungai Cimahi. Daerah awal yang terlayani baru Kel. Karang Mekar dan Kel. Cigugur Tengah. Dituturkan Jani, dalam praktiknya UPT Air Minum Kota Cimahi akan beroperasi seperti Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kab. Bandung/Cimahi yaitu PDAM Tirta Raharja. Bedanya dalam hal tarif penjualan air dimana kemungkinan lebih murah.

"Nilai pasti tarifnya nanti akan diputuskan lewat Perda. Tapi Perdanya masih dalam pembahasan. Pengelolaan hingga pemeliharaan nanti dilakukan UPT Air Minum," ujarnya. Jika pembangunan jaringan bisa rampung dalam waku dekat, lanjut Jani, maka pengaliran air bisa dilakuka secepatnya. "Tergantung masyarakat mau enggak membuat sambungan rumah dengan konsekuensi retribusi. Kalau bisa, maka kendala kekeringan di musim kemarau bisa teratasi," tuturnya.***PR

Warga Cimahi Protes Pembangunan Padaasih

Warga Cimahi Desak KBB Hentikan Pembangunan di Padaasih - Cimahi Cyber CitySejumlah warga Kelurahan Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, mengeluhkan maraknya pembangunan rumah di wilayah Desa Padaasih, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Pembangunan di desa itu dinilai menjadi penyebab terjadinya banjir di kelurahan tersebut. Salah seorang warga RW 4, sebut saja Asep menuturkan, banjir sudah mulai terjadi sejak tiga tahun belakangan. Padahal, dulu, jika hujan deras, daerah pemukiman di kelurahan Citeureup tidak pernah banjir. Debit air di selokan pun tidak pernah meluap. "Sering banjir sekitar tiga tahun terakhir," kata warga asli Citeureup ini, baru-baru ini. Air yang mengalir ke selokan-selokan permukiman di Kelurahan Citeureup itu datang dari Desa Padaasih yang berbatasan dengan kelurahan tersebut. Wilayah Desa Padaasih berada lebih tinggi dibandingkan dengan Kelurahan Citeureup. Dia menyayangkan fungsi daerah resapan air di Padaasih itu kini telah tiada dan malah menjadi permukiman.

Padahal, menurut dia, produktivitas lahan pertanian dan perkebunan di sana cukup tinggi. Asep pun heran dengan maraknya pembangunan di Padaasih itu. Orang biasa amat sulit untuk bisa memperleh Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari kecamatan. Namun, di sisi lain, rumah-rumah besar di sana banyak yang berdiri. "Kenapa perumahan di atas itu banyak. Itu liar, berizin atau gimana," ujar dia. Rumah-rumah yang berdiri di Padaasih, beragam. Ada yang berupa cluster, dan ada pula rumah-rumah elit. Paling murah, kata dia, harga rumah di sana di kisaran Rp 500 juta. Di wilayah Padaasih itu pun tidak ada rumah bersubsidi. Ada beberapa RT di RW 4 yang kerap menjadi langganan banjir, yakni RT 2 dan RT 5. Di RT 2 itu, terdapat sekitar 157 keluarga, sedangkan di RT 5 ada sekitar 154 keluarga. Total keluarga yang biasa terdampak banjir saat hujan deras, menurut sumber itu, 20 keluarga di RT 2 dan 50 keluarga di RT 5. Jika banjir di RT 5 tergolong cepat surut sedangkan yang di RT 2 agak lama. Paling parah, ketinggian banjir di sana mencapai sekitar 75 cm.

Secara keseluruhan, RW yang rawan terkena banjir yaitu RW 5, 4, 3, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, dan 15. Selain itu, lanjut dia, kolam pemancingan yang berada di sana, pun menjadi kerap meluap saat hujan deras. Padahal, sebelumnya, pada 2012 ke belakang, kolam tersebut tidak pernah meluap hingga membanjiri pemukiman warga. Pemkot Cimahi, lanjut dia, sering melakukan perbaikan terhadap drainase sisi jalan di Kelurahan Citeureup. Namun, upaya ini akan percuma jika pada akhirnya pembangunan di Padaasih tetap marak. Karena, tentu daya tampung drainase tidak akan kuat menahan debit air yang turun dari Padaasih. "Sudah bikin drainase. Tau-tau percuma karena tidak bertahan lama," ujar dia. Warga Citeureup juga sering mengadakan pertemuan untuk membahas perihal kondisi tersebut. Misalnya, sempat beberapa kali digelar sebuah acara yang membahas soal pembangunan di Kawasan Bandung Utara (KBU). Kecamatan Cimahi Utara dan Cisarua termasuk dalam KBU. "Sering ada pertemuan atau penyuluhan tentang KBU. Tapi itu hanya omongan saja," kata dia.

Karena itu, warga Citeureup meminta agar pemerintah KBB lebih memperhatikan kawasan KBU. Sebab, di KBU itu, banyak sekali perumahan. "Katanya KBU kan dilarang mendirikan perumahan, tapi ini malah banyak rumah elit yang berdiri di sana," tutur dia. Hal senada diutarkaan Ketua RW 6 Kelurahan Citeureup Cimahi Utara, Amaludin. Ia mengatakan, pembangunan rumah di Desa Padaasih KBB terus-menerus dilakukan. Saat ini, menurut dia, terdapat tiga perumahan yang tergolong cukup besar di desa tersebut. Warganya pun sudah sering rapat untuk membicarakan soal banjir yang kerap melanda permukiman di RW-nya. Warga selalu sepakat untuk terus meminta Pemkab Bandung Barat menghentikan pembangunan apapun, termasuk rumah, di Desa Padaasih. Sebab, kalau di Padaasih terus didirikan rumah, maka akan mengakibatkan banjir di Citeureup, termasuk di wilayah RW 6. "Harus disetop. Kalau dibangun terus, susah ke bawahnya. Enggak ada penyerapannya. Di sini kan susah nampungnya, karena pembuangan air dari sana kan mengalir ke sini semuanya," kata dia. - Republika

Sunday, May 8, 2016

Hasil Investigasi Limbah Sungai KLH Kota Cimahi

KLH Cimahi Kantongi Hasil Investigasi Limbah Sungai Cimahi Cyber CityKantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Cimahi sudah mengantongi hasil investigasi air limbah. Meski begitu, hasil penelitian belum bisa dibeberkan kepada khalayak. Seperti diketahui, pada 30 Maret lalu KLH memantau dan mengambil sampel air dari pembuangan limbah pabrik di sepanjang aliran sungai Cimahi. Terutama di wilayah Cimahi Selatan.

Sampel air pembuangan dari pabrik tersebut sudah diuji dengan analisis Chemical Oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan dalam air. Atas permasalahan limbah ini, sejumlah unsur masyarakat akhir pekan lalu melakukan unjuk rasa. Mereka meminta pemerintah bertindak tegas atas permasalahan sungai. Kepala KLH Kota Cimahi, M Ronny mengatakan, hasil COD sudah diketahui. Sebelum diumumkan, terlebih dahulu pihaknya akan melakukan ekspose kepada wali kota.

Dia membeberkan gambaran umum. Hasilnya, ada beberapa titik yang teridentifikasi terkena pencemaran air limbah pabrik. "Tiga titik sampel sungai ini tercemar. Dilaporkan dulu ke wali kota. Kami belum bisa beberkan secara langsung," kata Ronny kepada wartawan, Senin (26/4/2016). Dia mengatakan, hasil pengecekan yang dilakukan di laboratorium tersebut memang terlebih dahulu harus dilaporkan kepada wali kota. Sebab, kebijakan selanjutnya haruslah melalui pimpinan daerah.

Menurutnya, ini dilakukan agar hasil investigasi berikut solusinya diperoleh secara komprehensif. Pun selanjutnya, kebijakan yang akan dilakukan wali kota semakin lengkap. Meski begitu, dia mengaku punya usulan kebijakan mengenai pembuangan air limbah dari pabrik di Cimahi. Salah satunya, perusahaan diwajibkan memasang titik koordinat outpol atau saluran pembuangan resmi. Mengenai saluran pembuangan air limbah dari pabrik, melalui pemantauan yang dilakukan beberapa waktu lalu, dia mengungkapkan memang ada beberapa saluran yang tidak resmi alias bodong.

"Saya belum bisa memprediski. Tapi dari 1 km yang kita lalui kemarin itu ditemukan saluran bodong," ungkapnya. Tapi, untuk lebih menguatkan lagi apakah saluran tersebut bodong atau tidaknya, Ronny akui harus ditelusuri sampai tuntas. "Kita belum bisa menjurus bahwa saluran ini pabrik A atau pabrik B karena harus ditelurusi ujungnya di mana," katanya. Untuk tindakan selanjutnya, saluran pembuangan air limbah akan disampaikan kepada wali kota untuk mengetahui tindakan selanjutnya. [Inilah]